Biografi Profil Biodata | Tokoh Ilmuwan Penemu

19 August 2018

Sun Peiyuan Medali Emas Pertama Asian Games

Biografi Profil Biodata Sun Peiyuan - Medali Emas Pertama Asian Games 2018Sun Peiyuan (29 tahun) adalah atlet Wushu China menjadi atlet pertama yang meraih medali emas di Asian Games, Minggu (19/8). Sun berhasil mendapat nilai 9,75 dan memenangkan medali emas untuk kategori putra changquan olahraga tradisional China itu. Sun mengandaskan upaya Indonesia memenangkan emas pertama dengan mengalahkan atlet wushu Indonesia, Edgar Xavier Marvelo. Marvelo menempati urutan kedua dengan medali perak. China meraih 151 medali emas pada Asian Games 2014 di Incheon, hampir dua kali lipat dari total medali emas yang diperoleh tuan rumah Korea Selatan. China berhasil mempertahankan rekor juara di setiap Asian Games sejak 1982.

Sun Peiyuan memenangkan medali emas pertama dari Asian Games ke - 18 di Wushu untuk memberi kekuatan kepada China sebagai awal yang sempurna untuk kampanye mereka pada hari Minggu (19 Agustus). Pemain berusia 29 tahun itu merebut emas changquan pria dengan 9,75 poin setelah tampil mengesankan dengan gerakan akrobatiknya di Jakarta International Expo di Kemayoran dalam olahraga yang dikembangkan dari seni bela diri Tiongkok kuno. Indonesia juga membuka dengan Edgar Marvelo (9,72) yang mengklaim perak menjelang Tsai Tse-min (9,70) dari China Taipei. Ini adalah kembalinya bahagia ke Indonesia untuk Sun, yang memenangkan emas Kejuaraan Dunia Changquan 2015 di Jakarta, setahun setelah mengklaim emas daoshu di Asian Games Incheon empat tahun lalu. Cina adalah pemimpin yang tak terbantahkan dalam wushu, setelah memenangkan 12 dari 15 gelar dunia, termasuk empat terakhir. Mereka memenangkan 12 medali wushu, termasuk 10 emas, di Incheon yang merupakan rekor untuk komite Olimpiade nasional tunggal. #Lihat pula : Marvelo Edgar Xavier - Medali Pertama Indonesia

Defia Rosmaniar - Medali Emas Pertama Indonesia

Biografi Profil Biodata Defia Rosmaniar - Medali Emas Pertama IndonesiaDefia Rosmaniar Atlet Taekwondo berhijab berhasil mendapatkan emas pertama di Asian Games 2018, Minggu 19 Agustus 2018 untuk Indonesia. Defia Rosmaniar yang berhasil menyumbangkan emas dari cabang olahraga Taekwondo di nomor Poomsae Individu Putri. Defia yang mengenakan jilbab mengalahkan atlet dari Iran, Marjan Salahsouri yang juga berhijab dalam pertandingan di Asian Games 2018 ini. Defi bertarung dan menang dalam dua babak di komplek Jakarta Convention Center (JCC), Minggu, 19 Agustus 2018.

Profil singkat Defia Rosmaniar :

Defia Rosmaniar
Lahir di Bogor, 25 Mei 1995.
Yinggi badan 163 cm dan berat 54 kg
SD Leuwiliang dan lulus tahun 2000.
SMPN 1 Cibungbulang dan lulus tahun 2009
SMAN 1 Leuwiliang 4 dan tamat pada tahun 2012.
Atlet cabang olah raga taekwondo dengan nomor pertandingan poomsae.

Prestasi Defia Rosmaniar :


- Medali perak untuk Individual female U-29 Asian Taekwondo Poomsae Championship, Manila Philiphine 2016
- Medali perak untuk Pair mixed Poomsae Asian Championship , Manila Philiphine 2016
- Medali perak untuk Pair mixed U-29 ( korean division ) 26th Korea Open Championship, Gyeongju Korea 2016
- Medali perak untuk Individual female senior kejurnas mahasiswa, Lombok Mataram 2016
- Medali emas untuk Individual female U-30 poomsae (Taekwondo world Hanmadang 2016 Korea)
- Medali emas untuk Individual femalem U-30 poomsae ( 1st Bankimon Open Korea 2016)
- Medali emas untuk Team female U-30 poomsae (1st Bankimon Open Korea 2016)
- Medali emas untuk Individual female PonJabar XIX 2016
- Medali emas untuk Team female PonJabar XIX 2016
- Medali emas untuk Team female senior kejurnasmahasiswa, Lombok, Mataram 2016

Di Asian Games 2018 Defia meraih emas setelah mengalahkan atlet Iran, Marjan Salahsahouri di babak final cabang olahraga taekwondo putri nomor Poomsae di Jakarta Convention Center, Minggu (19/8/2018). Setelah dinyatakan menang, Defia langsung menghampiri pelatihnya kemudian berlari mengelilingi arena pertandingan sambil mengibarkan bendera merah putih. Air mata pun terlihat membasahi pipi atlet asal Bogor itu. “Sempat deg-degan di semifinal, tapi aku lepas saja lah, sudah ada yang ngatur juga kan. Menang kalah wajar cuma ya saya maksimal saja,” kata Defia. #Lihat pula : Marvelo Edgar Xavier - Medali Pertama Indonesia

Marvelo Edgar Xavier - Medali Pertama Indonesia

Biografi Profil Biodata Marvelo Edgar Xavier - Medali Pertama IndonesiaMarvelo Edgar Xavier yang lahir di Jakarta, 16 Desember 1998 adalah Peraih Medali Pertama Indonesia di Asian Games 2018. Edgar Xavier mencatatkan prestasi dengan meraih medali pertama untuk Kontingen Indonesia dari cabang wushu Asian Games 2018. Edgar meraih medali perak pada nomor Changquan Putra di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Utara, Sabtu (19/8/2018). Marcelo mencatat 9,72 poin atau terpaut 0,3 poin dari peraih medali emas pewushu asal China, Sun Peiyuan dengan 9,75 poin.

Edgar terlihat meneteskan air mata karena tidak bisa membendung kebahagiaan. Edgar menitip pesan buat seluruh atlet Indonesia untuk tampil semaksimal mungkin di Asian Games 2018. Dia ingin seluruh atlet yang menghuni kontingen Merah-Putih juga mengukir prestasi. Hasil yang diraih Edgar Xavier jadi perolehan medali pertama bagi kontingen Indonensia. Perolehan ini diharapkan bisa menjadi lecutan bagi atlet Indonesia untuk mendulang medali lebih banyak lagi di Asian Games 2018. Di balik aksi menawannya di arena wushu, Edgar juga mencatat prestasi di dunia pendidikan.

Pemuda kelahiran Jakarta, 16 Desember 1998 ini hanya membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA di Jubille School. Putra bungsu dari empat bersaudara pasangan Lo Tjhiang Meng dan Maria Caecilia Nureka dengan enteng menjawab, "Belum berpikir kuliah karena konsentrasi menghadapi Asian Games 2018," katanya. Setelah meraih perak di Asian Games 2018, Edgar Xavier akan mengejar asa untuk tampil di Olimpiade Tokyo 2024. Dalam pentas Asian Games 2018 Tim Indonesia mendapat dukungan dari PT AXA Mandiri Financial Services (AXA Mandiri) lewat gerakan moral hastag bertajuk #AXAMandiriuntukIndonesiaJuara dan #AXAMandiriDukungTimIndonesiaJuara.

Bentuk dukungannya adalah semua atlet Tim Indonesia yang berlaga pada Asian Games akan diberikan perlindungan berupa asuransi jiwa dan kesehatan. Kerja sama dan dukungan AXA Mandiri ini merupakan yang pertama dan satu-satunya asuransi jiwa yang hadir dalam Asian Games 2018 untuk Tim Indonesia. Hal ini ditandai dengan pendatanganan kerja sama antara AXA Mandiri dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) selaku komite olimpiade nasional Indonesia, pada Senin, 23 April 2018 di AXA Tower, Jakarta. #Lihat pula : Defia Rosmaniar - Medali Emas Pertama Indonesia

Joni Gala - Aksi Bocah Pemanjat Tiang Bendera

Biografi Profil Biodata Joni Gala - Video Aksi Heroik Si Pemanjat Tiang BenderaYohanes Andi Gala atau Yohanis Gama Marschal Lau yang biasa disapa Joni Gala adalah pelajar kelas 7 SMPN Silawan yang saat upacara peringatan HUT ke-73 RI di pantai Mota’ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, NTT, Jumat (17/8/2018) menunjukkan aksi heroik memanjat tiang bendera dengan tinggi diperkirakan belasan meter. Yohanes Andi Gala melakukan hal itu demi mengibarkan bendera merah putih saat upacara HUT RI pada Jumat, 17 Agustus 2018 di perbatasan Timor Leste ini, karena tali pengngerek bendera lepas dan tersangkut di ujung atas tiang bendera tersebut. Aksi nekad Joni itu tanpa disuruh dan merupakan inisiatifnya sendiri. Bermodal keberanian, bocah ini nekat memanjat tiang bendera saat upacara khidmat itu nyaris gagal.

Dia menuturkan, saat upacara pengibaran bendera sedang berjalan, tiba-tiba dia merasa perutnya mules. Joni pun bergegas mencari obat di posko P3K di area upacara. Saat itulah, dia mendengar cerita petugas kesehatan soal insiden putusnya tali bendera. Tanpa berpikir panjang, Joni berlari ke depan menuju tiang bendera dan langsung beraksi. Tak butuh waktu lama, Joni sudah berada di puncak tiang bendera yang diperkirakan belasan meter itu. Aksi penyelamatan Joni itu langsung mendapat tepuk tangan dari seluruh peserta upacara. "Saya tidak rasa takut, yang di otak saya bagaimana merah putih bisa berkibar," kata Joni Gala.

Yang menjadi inspektur upacara bendera tersebut adalah Wakil Bupati Belu, JT. Ose Luan. Wabup JT. Ose Luan menyebut sikap Yohanes adalah hebat dan kejadian itu mengingatkan pada masa perjuangan para pejuang kemedekaan. Wabup JT. Ose Luan mengatakan,"Ini pahlawan kecil penyelamat kita pagi ini. Seorang anak pelajar yang menjadi penyelamat dalam upacara kemerdekaan. Terimakasih pahlawan kecil, kejadian ini menggugah saya tapi kau adalah pahlawan." Aksi Panjat Tiang Bendera oleh pelajar SMP di Kabupaten Belu Perbatasan RI-RDTL ini bikin merinding dan patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya.

Joni Gala anak kesembilan dari pasangan Viktor Lino Fahik Marsal dan Lorensa Gama dan orang tua Joni Gala merupakan warga eks Timor-Timur yang memilih NKRI karena cintanya akan tanah air Indonesia. Berkat aksi heroik Johny Gala memanjat tiang bendera tersebut, Yohanes Andigala yang tinggal di RT 12/RW 05 Dusun Halimuti, Desa Silawan ini tak pernah menyangka dirinya bakal menjadi perhatian publik karena dia hanya spontan saja memanjat tiang bendera. Aksi nekat sang bocah ini diabadikan staf BNPP di Pos Lintas Batas Negara Terpadu (PLBN) Motaain. Videonya menjadi viral setelah diposting akun FB bernama Ika Silalahi.

18 August 2018

Biografi Kofi Annan - Sekjen PBB Diplomat Ghana

Biografi Profil Biodata Kofi Annan Meninggal Dunia Sekjen PBBKofi Atta Annan (/ˈkoʊfi ˈænæn/; lahir 8 April 1938 – meninggal 18 Agustus 2018 pada umur 80 tahun) adalah diplomat Ghana yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-7 sejak Januari 1997 sampai Desember 2006. Annan dan PBB adalah penerima Hadiah Perdamaian Nobel 2001. Ia adalah pendiri dan ketua Kofi Annan Foundation sekaligus ketua The Elders, organisasi internasional yang didirikan oleh Nelson Mandela.

Annan lahir di Kumasi dan mendalami ilmu ekonomi di Macalester College, hubungan internasional di Graduate Institute Geneva, dan manajemen di MIT. Annan bergabung dengan PBB tahun 1962 dan bekerja di Organisasi Kesehatan Dunia cabang Jenewa. Ia kemudian memegang beberapa jabatan di Markas PBB, termasuk Wakil Sekretaris Jenderal bidang penjagaan perdamaian sejak Maret 1992 sampai Desember 1996. Ia dipilih sebagai Sekretaris Jenderal pada tanggal 13 Desember 199 oleh Dewan Keamanan, lalu disahkan oleh Majelis Umum. ia menjadi Sekretaris Jenderal pertama yang berasal dari kalangan staf PBB. Ia terpilih lagi untuk periode kedua pada tahun 2001 dan digantikan oleh Ban Ki-moon pada 1 Januari 2007.

Sebagai Sekretaris Jenderal, Annan mereformasi birokrasi PBB; merintis program melawan HIV, khususnya di Afrika; dan meluncurkan UN Global Compact. Ia sempat dikritik karena tidak memperbesar Dewan Keamanan dan diminta mundur pasca-investigasi Oil-for-Food Programme. Setelah keluar dari PBB, ia mendirikan Kofi Annan Foundation yang bergerak di bidang pembangunan internasional pada tahun 2007. Tahun 2012, Annan menjabat sebagai Utusan Khusus Bersama PBB–Liga Arab untuk Suriah untuk menemukan solusi konflik berkepanjangan di sana. Annan keluar karena PBB bergerak lambat dalam resolusi konflik Suriah. Pada September 2016, Annan memimpin komisi PBB untuk menyelidiki krisis Rohingya.

Pada tahun 1965, Kofi Annan menikahi Titi Alakija, seorang wanita Nigeria dari keluarga aristokrat. Beberapa tahun kemudian mereka memiliki seorang anak perempuan, Ama, dan kemudian seorang putra, Kojo. Pasangan ini berpisah pada akhir 1970-an, dan bercerai pada tahun 1983. Pada tahun 1984, Annan menikahi Nane Maria Lagergren, seorang pengacara Swedia di PBB dan seorang ibu setengah keponakan dari Raoul Wallenberg. Dia memiliki seorang anak perempuan, Nina, dari pernikahan sebelumnya. Kofi Annan meninggal pada pagi hari 18 Agustus 2018 di sebuah rumah sakit di Swiss setelah penyakit yang singkat.